Tempat Wisata Ketika Mudik Ke Banyuwangi

Indra Toni

24 July 2019 | 11:37

Perjalanan mudik tahun 2019 sudah bisa dinikmati dari Merak sampai Probolinggo. Lama berkendara yang tadinya berpuluh-puluh jam, sekarang bisa ditempuh dengan durasi lebih cepat. Tak hanya itu, sepanjang perjalanan pengguna tol juga bisa menikmati berbagai tempat-tempat objek wisata yang dilalui. Mereka tinggal tentukan pintu keluar yang diinginkan.

 

Salah satu kabupaten yang sedang menggenjot pariwisatanya adalah Banyuwangi. Wisatawan sekarang bisa dengan mudah mengunjungi di kota bahari ini. Bagi yang membawa kendaraan pribadi, Tol Trans-Jawa jadi pilihan menarik untuk dicoba. Wisatawan bisa keluar di pintu tol Probolinggo dan dilanjutkan jalur arteri dengan jarak tempuh sekitar 5 jam perjalanan. Sepanjang jalur yang dilalui, pemandangan menuju Banyuwangi sangat mempesona. Pesisir pantai utara, akan menemani kalian selama di perjalanan.

 

Ada beberapa tempat wisata di banyuwangi yang mulai dikenal hingga ke mancanegara. Mulai dari wisata bahari, pegunungan sampai atraksi budaya. Pada momen-momen tertentu, pihak pemerintah daerah sering mengadakan event wisata yang bertaraf internasional. Tak ayal, kini kabupaten di ujung Jawa Timur ini mulai percaya diri bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia. Berikut 3 wisata Banyuwangi yang wajib dikunjungi.

 

Taman Nasional Baluran

Kawan-kawan pecinta alam dan pecinta keindahan bisa langsung mengunjungi Taman Nasional Baluran. Taman Nasional Baluran (TNB) terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Mungkin Masyarakat luas lebih mengetahui Bahwa Baluran terletak di Kabupaten Banyuwangi, hal tersebut karena memang letak Taman Nasional Baluran berada di perbatasan Banyuwangi-Situbondo dan lebih dekat dengan Banyuwangi.

 

Baluran mendapat julukan Africa Van Java atau Little Africa. Julukan tersebut memang sangat pantas, karena di dalam TNB terdapat padang Savana yang sangat luas dengan banyak satwa liarnya. Banteng, rusa, ular, kerbau, monyet ekor panjang yang lumayan buas, kerbau dan burung merah yang indah, semua ada di Baluran. Keberadaan satwa liar ini menjadi ciri khas kawasan konservasi Taman Nasional Baluran.

Nama Baluran diambil dari nama gunung yang berada di kawasan ini yaitu gunung Baluran yang tampak berdiri kokoh dan menjadi latar yang indah.

 

Luas Taman Nasional Baluran 25 ribu hektar dengan memiliki beberapa jenis hutan, satwa dan tumbuhan dan 40%nya adalah Vegetasi savana. Baluran juga disebut sebagai miniatur hutan Indonesia karena hampir seluruh tipe hutan ada di Baluran. Di dalamnya terdapat Vegetasi Savana, hutan Mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun.

Sebanyak 44 jenis tumbuhan hidup subur di Baluran, diantaranya terdapat tumbuhan khas yaitu widoro bukol, mimba dan pilang. Terdapat 26 jenis mamalia, diantaranya banteng, kerbau, ajag, kijang, rusa, macan tutul, dan kucing bakau. Serta sebanyak 155 burung juga hidup di Baluran.

 

Baluran sering dijadikan lokasi untuk syuting atau pre wedding. Wisatawan bisa menggunakan tiap sudut di Baluran dengan dikenakan biaya mulai dari Rp. 1 juta – 2 juta, sesuai jenis kamera yang digunakan.

 

Biaya masuk Taman Nasional Baluran ini bermacam-macam, sesuai dengan situasi kondisi dan berdasarkan asal wisatawan. Selain tiket masuknya, biaya parkir juga diperhitungkan. Harga tiket masuk pada hari biasa (senin - jumat):

  • Wisatawan lokal : Rp.15.000
  • Wisatawan mancanegara : Rp. 150.000
  • Tarif parkir:

- Motor                                : Rp. 5.000

- Mobil pribadi                    : Rp. 10.000.00

- Bus                                    : Rp. 50.000

 

Harga tiket masuk weekend atau hari libur (tanggal merah)

  • Wisatawan lokal : Rp. 17.500
  • Wisatawan mancanegara : Rp. 225.000
  • Tarif parkir:

- Motor                                : Rp. 7.500

- Mobil pribadi                            : Rp. 15.000

- Bus                                    : Rp. 75.000

 

 

Pantai Pulau Merah

Banyuwangi sangat kaya akan pantai, dan hal inilah yang jadikan Banyuwangi lebih dikenal di dunia. Hampir setengah wilayah Banyuwangi dikelilingi Pantai. Salah satu pantai yang banyak dilirik wisatawan adalah Pantai Pulau Merah, sebuah Pantai yang berlokasi di ujung selatan Banyuwangi. Atau tepat di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggrahan.

 

Pantai pulau merah ini memiliki pasir putih yang terhampar luas sepanjang 3 kilometer. Dimana tidak jauh dari bibir pantai tersebut Terdapat bukit kecil yang sangat cantik setinggi 200 meter. Di bagian timur, wisatawan disuguhi dengan pemandangan pegunungan. Sedangkan di bagian barat, wisatawan disuguhi dengan pemandangan sunset yang sangat indah.

 

Selain pemandangan menawan, pantai Pulau Merah memiliki ombak yang sangat bagus setinggi 2 meter dengan panjang kurang lebih 300 meter yang dikelilingi oleh pohon mangrove. Dan hal ini menjadi kesempatan yang baik bagi mereka yang hobi berselancar. Pantai ini selalu dipenuhi oleh peselancar mancanegara setiap harinya. Bagi yang ingin mencoba sensasi ombak disini, cukup menyewa papan selancar mulai dari Rp. 25.000 – Rp. 50.000.

 

Pantai Pulau Merah sebelumnya dikenal dengan Pantai Ringin Pintu oleh masyarakat setempat. Nama Pulau Merah sendiri merujuk pada bukit kecil ditengah laut (tidak jauh dari pantai) yang memiliki tanah berwarna merah. Namun pulau tersebut tidak terlihat merah karena adanya pohon yang menyelimuti. Selain warna merah tanah bukit kecil tersebut, pantai ini memang terlihat sangat merah ketika sore hari. Warna kemerah-merahan tersebut disebabkan oleh pasir basah yang terkena sinar matahari yang hendak tenggelam, terutama pada saat kemarau.

 

Ketika berencana ingin menginap dan menghabiskan malam di Pantai Pulau Merah, dapat menyewa homestay di sekitar pantai yang disediakan oleh warga setempat. Harga sewanya relatif murah, yaitu mulai dari Rp.100.000 per malam. Wisatawan dapat memilih homestay sesuai dengan fasilitas yang anda inginkan.

 

Keamanan berwisata di Pantai pulau merah sangat diutamakan. Terdapat petugas yang menjaga sekaligus mengamankan apabila ada kecelakaan atau sesuatu yang tidak diinginkan, terutama kepada mereka yang melakukan renang di Pantai. Terdapat tower setinggi 5 meter yang digunakan oleh petugas ini untuk memantau dan memastikan keamanan keadaan di sekitarnya.

 

 

Djawatan Benculuk

Tak mau ketinggalan dengan banyaknya spot foto instagramable di Jogja, Bandung atau Malang, Banyuwangi pun kini punya destinasi hits yang harus kamu datangi. Sebuah hutan bernama Djawatan Benculuk disulap jadi spot foto yang kekinian dan  keren abis. Tempat wisata ini berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Dibutuhkan waktu 30 menit perjalanan dari pusat kota Banyuwangi melalui jalur darat.

 

Hutan Djawatan Benculuk awalnya terdapat bangunan yang digunakan sebagai tempat pengelolaan kereta api. Namun kini, hutan yang berisi pohon trembesi tersebut sudah berganti fungsi menjadi destinasi wisata. Banyak motor dan mobil pengunjung mendatangi hutan yang seperti di film Lord of The Rings tersebut. Hutan ini ramai dikunjungi pada sore hari ketika cahaya matahari samar-samar di antara rimbunnya pepohonan.

 

Sebagai spot foto, Hutan Djawatan menambah dengan pernak-pernik menarik. Payung-payung cantik yang bergelantungan dan

rumah-rumah pohon, dibuat untuk membuat suasana indah. Menariknya, selain dijadikan tempat wisata, Djawatan juga digunakan sebagai resapan air dan penimbunan kayu jati kualitas unggul yang dikelola Perhutani.

 

Untuk bisa menikmati Djawatan benculuk, wisatawan hanya dikenakan biaya parkir kendaraan. Bagi wisatawan yang ingin mendapat foto-foto terbaik, disarankan untuk membawa kamera beresolusi tinggi agar dapat menangkap detail cahaya yang ada di antara rindangnya pepohonan Djawatan.

 

 

Indra Toni Setiawan

www.tempochannel.com 

Comments

About Us

Tempo Channel adalah salah satu produk digital dari Tempo Media Group. Tempo Channel lahir sebagai jawaban atas kebutuhan informasi digital berkualitas tentang industri pariwisata dan berita wisata. Tempo Channel, dibuat oleh tangan-tangan piawai yang menyimpan sejuta informasi.

read more