Masjid Muntok Lambang Toleransi Beragama Di Pulau Bangka

Dian Tempo

23 July 2019 | 10:43

Bangka Belitung memiliki satu daerah yang berdiri sejak abad ke-17, yaitu Desa Muntok di Kabupaten Bangka Barat. Sejarah Muntok dimulai pada tahun 1724–1725. Saat itu, Sultan Mahmud Badaruddin I memberi perintah kepada istrinya (Mas Ayu Ratu) dan petinggi kerajaan untuk melihat wilayah yang akan digunakan sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan dari negeri Siantan. Di ujung pulau Bangka yang berdekatan dengan muara Sungai Musi, kemudian dibangun 7 (tujuh) Bubung Rumah oleh Wan Akub sebagai tahap pertama.

 

Pada perkembangannya, kawasan itu dikenal dengan nama Muntok yang dulunya disebut Mentok. Sedangkan Tanjung yang pertama kali dilihat oleh Mas Ayu Ratu diberi nama Tanjung Kelian. Daerah ini dipimpin sementara waktu oleh Wan Akub sebagai Kepala Pemerintahan atas titah sultan. Setelah selesai pembangunan, Wan Akub menjabat sebagai Kepala Urusan Penambangan dengan gelar Datuk Rangga Setia Agama.

 

Muntok adalah wilayah strategis, sejak dahulu wilayah ini menjadi wilayah incaran Belanda karena memiliki potensi alam yang kaya. Muntok dikenal sebagai kota pelabuhan utama di Pulau Bangka, dimana lada putih dan timah diangkut untuk dikirim ke negara – negara Eropa melalui Pelabuhan Muntok.

 

Berkembangnya Muntok sebagai pusat kota di Bangka, disertai pula pembangunan masjid besar tempat peribadatan umat Islam disana. Atas prakarsa para ulama dan tokoh masyarakat pada waktu itu, dibangunlah sebuah masjid jami pada tahun 1883 (19 Muharram 1300 H). Masjid tertua di Bangka ini dibangun masa pemerintahan H. Abang Muhammad Ali bergelar Tumenggung Kertanegara II. Adapun 2 tokoh masyarakat Muntok yang membantu pendirian Masjid Jami Muntok ialah H. Nuh dan H. Yakub.

 

Masjid Jami’ Muntok memiliki ukuran 21 meter x 23 meter dengan tinggi sekitar 6 meter. Bangunan ini mempunyai lima pintu yang mengartikan lima rukun Islam. Ketiga pintu utama terdapat ukiran kaligrafi Surat al-A’la dari ayat 14 - 19. Di sisi kanan masjid ada satu lagi pintu yang dinamakan Pintu Beduk karena menyimpan bedug besar. Diatas Pintu Beduk terukir kaligrafi surat Al-Baqarah ayat 148. Sisi kiri masjid ada 1 pintu lagi dengan ukiran kaligrafi berbeda dengan pahatan Surat at-Thalaq ayat 2 pada bagian atasnya. Kaligrafi pintu ini baru ada saat renovasi masjid beberapa tahun kemudian setelah diserang tentara Jepang. Kaligrafi mihrab menjadi satu-satunya kaligrafi yang tersisa setelah peristiwa penyerbuan tentara Jepang di Muntok. Beberapa pasukan Jepang menjarah beberapa kelengkapan masjid. Selain mihrab, mimbar masjid tua tersimpan dengan baik. Mimbar tua memiliki ornamen ukiran dedaunan. Bentuk mimbar lebih ramping dari mimbar yang digunakan sekarang.

 

Enam pilar depan masjid merupakan perpaduan gaya Doria dan Ionia, bentuk pilar yang dapat ditemui pada gedung-gedung buatan arsitek Belanda. Enam pilar didesain rendah sehingga nampak anggun dan menimbulkan kesan ramah bagi peziarah masjid. Jumlah pilar masjid bermakna rukun Iman.

 

Ruang utama masjid berukuran 17 meter x 17 meter dengan empat tiang utama yang menyimbolkan empat madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah. Atap masjid ditopang oleh empat tiang yang terbuat dari kayu hitam. Kayu tersebut sumbangan dari salah satu Mayor berkebangsaan Cina.

 

Tidak ada yang berubah dari arsitektur bangunan Masjid Jami Muntok. Hanya di tahun 2008 dan 2014, dilakukan pelebaran di sisi bangunan utama. Masjid Jami tidak pernah sepi dari jamaahnya. Kegiatan keagamaan menjadi agenda rutin di masjid Jami.

 

Letak Masjid Jami’ Muntok berdekatan sebuah kelenteng yang lebih tua 83 tahun dari usia masjid. Hal ini menjadi sebuah pelajaran penting dan sangat berharga terhadap perjalanan panjang masyarakat Muntok di masa lalu yang terbuka dan menerima perbedaan. Bagi kita, inilah makna dari sebuah toleransi yang diajarkan para pendahulu.

 

 

Indra Toni Setiawan

www.tempochannel.com 



Comments

About Us

Tempo Channel adalah salah satu produk digital dari Tempo Media Group. Tempo Channel lahir sebagai jawaban atas kebutuhan informasi digital berkualitas tentang industri pariwisata dan berita wisata. Tempo Channel, dibuat oleh tangan-tangan piawai yang menyimpan sejuta informasi.

read more