Hidup Dengan Laut, Warga Bangka Belitung Lakukan Ritual Ini

Dian Tempo

23 July 2019 | 10:41

Menyebut Film laskar Pelangi, yang terlintas di benak tentu adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebuah Provinsi yang terkenal akan keindahan alam, serta kekayaan adat tradisi melayu yang masih terjaga di tengah kehidupan masyarakatnya.

 

Selain potensi sumber daya alam melimpah dan pesona alamnya, masyarakat Bangka Belitung  ternyata memiliki beragam kesenian tradisional, dan masih terjaga hingga saat ini. Unik, sedikit bernuansa mistis, namun tetap atraktif dan mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Inilah tradisi Buang Jong, salah satu upacara kuno yang masih dijalankan sebagian warga Bangka Belitung. Khususnya warga suku laut atau suku Sawang Di Desa Selinsing, Belitung.

 

Bagi masyarakat kampung suku Sawang, buang jong merupakan ritual sakral yang telah berlangsung turun temurun. Setiap tahun, ritual ini digelar sebagai bentuk permohonan warga suku laut agar hasil tangkapan melimpah serta terhindar dari hal hal buruk selama melaut. 

 

Di Belitung Timur, upacara buang jong diselenggarakan setiap bulan februari, saat musim angin barat dimana ombak laut mengganas. Upacara diawali pelaksanaan ritual berasik. Para tetua kampung yang dipimpin seorang dukun adat kemudian memanggil roh leluhur mereka dan roh penguasa lautan untuk bergabung dalam ritual.  Selama ritual berlangsung, gendang terus ditabuh serta doa dan mantra terus dirapalkan. 

 

Dalam ritual pemanggilan roh ini, sejumlah anak muda suku laut menari-nari dengan mata tertutup kain putih. Mereka menari dalam keadaan trans, atau tidak sadar. Bagi masyarakat suku Sawang, keadaan trans mengisyaratkan kehadiran roh-roh leluhur.

Mereka menari mengelilingi jong, replika perahu yang didalamnya terdapat ancak atau miniatur rumah. Terdapat juga sesajen berupa rokok, telur dan seekor ayam hitam. Sepanjang tarian, satu persatu penari pingsan. Mereka tersadar setelah dipercikan air yang sudah dimantrai. Dalam keadaan trans ini, para penari mengaku dapat berkomunikasi dan melihat kerabat atau anggota keluarga yang sudah meninggal.

 

Ketika prosesi ritual jitun dijalankan, suasana magis makin bertambah. Dalam kondisi tak sadar, seorang dukun memanjat dua tiang pinang yang terpancang. Tarian di atas tiang menyimbolkan kebanggaan mereka sebagai suku laut

 

Usai menggelar serangkaian ritual, keesokan harinya warga kampung suku laut sawang kembali  berkumpul. Mereka bersiap membawa perahu, dan melarungnya ke laut. Prosesi pelarungan perahu diawali ritual tari ancak. Seorang pria menari, sambil membawa replika rumah. Segerombolan anak ikut menari, mengelilingi perahu. Selanjutnya, mereka membawa ancak ke dalam hutan, memohon agar roh roh masuk dalam replika rumah kayu.

 

Prosesi dilanjutkan dengan mengarak dan membawa ancak dari rumah ke rumah suku Sawang. Warga menyambut kedatangan penari ancak dengan melemparkan beras, sebagai simbol membuang sial.

Kini, tiba waktunya melarung jong kelautan. Prosesi larung dilakukan di pantai Merodang, atau sekitar setengah jam perjalan dari perkampungan suku Sawang. Disertai ritual pemancangan tiang jitun, doa dipanjatkan sang dukun, perahu jong pun dilarung ke lautan lepas.

Masyarakat suku laut Sawang percaya, laut adalah sumber kehidupan, sekaligus pusat sejarah lahirnya keberadaan leluhur mereka. Dengan menggelar ritual buang jong, mereka berharap dapat hidup berdamai dengan lautan.

 

 

Indra Toni Setiawan

www.tempochannel.com 

Comments

About Us

Tempo Channel adalah salah satu produk digital dari Tempo Media Group. Tempo Channel lahir sebagai jawaban atas kebutuhan informasi digital berkualitas tentang industri pariwisata dan berita wisata. Tempo Channel, dibuat oleh tangan-tangan piawai yang menyimpan sejuta informasi.

read more