Masjid Rao Rao: Mitos Dan Fakta Yang Bertahan 1 Abad Lebih

Indra Toni

26 July 2019 | 10:30

Mengunjungi sebuah desa kecil bisa jadi pengalaman menarik. Bertemu orang baru, makanan baru dan tempat yang baru, mampu menambah cerita di baliknya. Perjalanan kali ini dimulai dari desa kecil di Kabupaten Tanah Datar, yaitu Rao Rao.

 

Rao Rao, merupakan desa kecil di Kecamatan Sungai Tarab yang jarang dikunjungi wisatawan. Daerah ini bisa ditempuh dengan jalur darat selama 3 jam dari pusat Kota Padang. Kawasan ini berada di dataran tinggi yang menyimpan udara pagi nan sejuk. Jika kita menapaki dengan bertelanjang kaki, akan terasa betul dinginnya alam Rao Rao.

 

Ada yang menarik ketika melintas di jalur utama Bukittinggi-Batusangkar. Persis di Jorong Rao Rao, kita akan bertemu dengan sebuah masjid dengan arsitektur gaya Eropa, Persia dan Minangkabau. Masjid Rao Rao, menjadi situs cagar budaya yang dilindungi oleh BPCD Provinsi Sumatera Barat.

 

Dibangun awal abad ke-19, masjid ini diprakarsai oleh tokoh ulama, Abdurrahman Datuk Marajo Indo. Memasuki 1 abad, tidak ada yang berubah dari bangunan ini, kecuali warna cat dindingnya. Masjid Rao Rao berdiri pada lahan seluas 400 meter persegi. sementara itu, tinggi bangunan masjid mencapai 28 meter.

 

Datuk Maharajo Indo yang merupakan Penghulu Kepala Rao Rao dari suku Koto Piliang mengusulkan agar masjid didirikan dekat dengan pusat nagari tepatnya di Tobek Sibua. Selain Maharajo Indo, beberapa tokoh lain juga ikut berperan dalam pendirian masjid ini. Seperti, Kajo Inan Parmato Lelo yang saat itu menjabat sebagai sebagai Lareh Rao Rao. Bisa disebut, pembangunan Masjid Rao Rao merupakan kesepakatan dari seluruh perangkat adat dan nagari yang ada saat itu.

 

Masjid selesai dibangun pada tahun 1918 dengan arsitektur yang sifatnya vernakular. Dibangun dengan bahan tembok yang tebal, masjid ini berbentuk bujur sangkar. Atapnya bersusun tiga dengan bagian atas difungsikan sebagai menara yang mengadopsi bentuk gonjong rumah gadang.

 

Secara garis besar, bangunan masjid sudah tidak menggunakan kayu sebagai bahan utama. Kayu hanya dipakai di bagian atas bangunan masjid, tepatnya rangka atap hingga menara. Sementara, bagian badan bangunan menggunakan bata maupun kapur atau beton sebagai bahan konstruksi. Masjid ini memiliki 13 jendela, 6 pintu, 2 kolam kecil, dan 4 buah anak tangga yang besar. Adapun lantainya menggunakan keramik yang dipesan langsung dari Italia. Dekat tempat ambil wudhu, terdapat kolam penampungan air hujan yang sering dijadikan arena renang oleh anak-anak Rao Rao.

 

Citra khas Minangkabau terwujud pada atap masjid. Atap masjid bersusun tiga terbuat dari seng dan di atasnya terdapat menara berbentuk segi empat beratap gonjong empat yang mengarah pada empat penjuru mata angin. Atap yang segi empat beratap gonjong empat melambangkan bahwa di Nagari Rao-rao terdapat empat Suku yaitu Petapang Koto Anyer, Bendang Mandahiliang, Bodi Caniago, dan Koto Piliang

 

Meski terlihat bangunan masjid menyerupai gaya eropa dan Persia, ternyata sumbangsih warga lokal sangat besar dalam pendiriannya. Banyaknya perantau keluar dari desa ini, menjadi hal positif dalam pendanaan pembangunan yang dilakukan secara berkala.

 

Beberapa masyarakat masih mempercayai cerita kuno yang mengatakan, bangunan ini memiliki unsur gaib dari pendirinya. Tiang tiang penyangga dan tangga yang terpasang, konon kabarnya ada yang mendiami. Hal itu karena, masjid tetap utuh berdiri meski berulang kali Sumatera Barat mengalami bencana alam seperti gempa tahun 1926 dan 2009.

 

Cerita masyarakat miliki ragam arti, namun hal itu tidak mengurangi makna yang terkandung di dalamnya. Ada penjelasan ilmiah yang bisa diterangkan kepada anak cucu kita. Rao Rao, cerita sejarah dan alamnya, menjadi suguhan yang menarik bagi siapapun yang meluangkan waktu singgah di desa ini.

 

Selain makanannya yang enak dan udaranya yang segar, masyarakatnya pun sangat ramah terhadap pengunjung yang datang. Masjid Rao Rao, adalah sepenggal cerita lokal yang penuh sejarah dan terjaga kebersamaan hingga sekarang.

Indra Toni Setiawan

www.tempochannel.com 

Comments

About Us

Tempo Channel adalah salah satu produk digital dari Tempo Media Group. Tempo Channel lahir sebagai jawaban atas kebutuhan informasi digital berkualitas tentang industri pariwisata dan berita wisata. Tempo Channel, dibuat oleh tangan-tangan piawai yang menyimpan sejuta informasi.

read more